Lawan Budaya Konsumstif, Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ajak Siswa SMK PGRI 7 Surabaya Cerdas Finansial
SURABAYA,LINTASDAERAHNEWS.COM – Kemudahan bertransaksi di era cashless society seperti dompet digital, QRIS, hingga fitur PayLater, seketika mengubah pola belanja Generasi Z menjadi serba praktis.Namun, di balik kemudahan tersebut, maraknya perilaku belanja impulsif (FOMO) dan rendahnya kebiasaan mencatat arus kas menjadi tantangan yang serius.
Merespons kondisi ini, tim mahasiswa Program Studi Akuntansi UPN "Veteran" Jawa Timur menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk "Peningkatan Literasi dan Pengelolaan Keuangan Digital pada Generasi Z berbasis Akuntansi Bela Negara". Program ini dilaksanakan secara bertahap pada tanggal 25 April, 2 Mei, dan 9 Mei 2026, bertempat di SMK PGRI 7 Surabaya yang berlokasi di Jl. Raya Lidah Wetan No. 1, Lakarsantri, Surabaya.
Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Akuntansi Bela Negara ini menyasar siswa kelas 10 dari jurusan Manajemen Perkantoran (MP) serta Akuntansi Keuangan dan Lembaga (AKL). Di bawah bimbingan dosen pengampu Prof. Dr. Dra. Ec. Indrawati Yuhertiana, M.M.,Ak. dan Moch. Charis Setiawan, SA., M.Ak., tim mahasiswa yang beranggotakan Hara, Tantri,Ahmad, Fatharani, dan Vanesha ini turun langsung memberikan edukasi interaktif guna membangun benteng finansial yang sehat bagi para pelajar.
Mengintip Realitas Dompet Gen-Z: Anggaran Habis Tanpa Jejak
Aksi turun tangan ini dipicu oleh realitas menarik di lapangan.Berdasarkan survei awal yang dilakukan tim mahasiswa terhadap 24 siswa di sekolah mitra, terungkap bahwa 68% responden belum terbiasa mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin. Tidak hanya itu, sebanyak 64% siswa mengaku sering melakukan pembelian secara spontan tanpa perencanaan matang.
Dari data pencatatan keuangan mingguan peserta, struktur pengeluaran mereka ternyata didominasi oleh pos-pos konsumtif jangka pendek. Kategori Makanan & Minuman menyerap anggaran sebesar 39,0%, disusul oleh pos Hiburan sebesar 29,6%. Jika diakumulasikan,sebanyak 68,6% dari total uang saku siswa habis sekadar untuk kesenangan sesaat. Kondisi ini diperparah dengan belum mampunya siswa memilah secara tegas antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), sehingga uang saku sering kali kritis sebelum waktunya.
Selain itu, pemahaman siswa mengenai risiko jebakan keuangan digital seperti bunga PayLater terpantau masih sangat minim. Padahal, lewat simulasi sederhana dalam modul yang dibagikan, tim mahasiswa menunjukkan bahwa membeli barang seharga Rp1.000.000 dengan cicilan 3 bulan dan bunga 2,5% per bulan akan membengkakkan total pembayaran hingga Rp1.050.000 – Rp1.070.000. Artinya, ada uang ekstra Rp50.000 – Rp70.000 yang terbuang percuma hanya demi kepuasan instan.
Ubah Mindset Lewat Metode Seru dan Buku Saku Digital
Guna mengikis perilaku konsumtif tersebut, tim mahasiswa menyajikan materi komprehensif yang dikemas secara segar. Mulai dari sejarah uang digital, pengenalan QRIS yang bijak, konsep needs vs wants, dampak media sosial, hingga metode budgeting ideal 50/30/20 (50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan).
Agar tidak membosankan, penyampaian materi dikombinasikan dengan diskusi kelompok, sesi tanya jawab, serta ice breaking yang menghidupkan suasana kelas. Seluruh rangkaian acara dibuka dengan pre-test dan ditutup dengan post-test untuk mengukur efektivitas pemahaman siswa.
Tidak sekadar teori, para siswa juga dilatih langsung menggunakan Template Pencatatan Keuangan Mingguan khusus. Melalui media ini, peserta diajak disiplin mencatat saldo awal,melacak arus kas harian, hingga melakukan evaluasi mandiri di setiap akhir pekan.
"Nilai-nilai Akuntansi Bela Negara sengaja kami tanamkan di sini. Karakter Disiplin diwujudkan lewat konsistensi mencatat setiap hari tanpa putus; Tanggung Jawab dalam mengelola uang saku sebagai amanah; serta Kejujuran untuk mencatat nominal sesuai dengan jumlah yang sebenarnya," ujar Hara selaku ketua tim mahasiswa.
Apresiasi tinggi pun datang dari pihak sekolah mitra. Bapak Ibnu Purnomo, S.Pd., selaku perwakilan guru SMK PGRI 7 Surabaya menyatakan bahwa program kecakapan hidup (life skill) ini memberikan dampak yang sangat positif.
"Kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi siswa kami. Mereka sekarang mulai paham cara mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta menyadari pentingnya membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan," ungkapnya bangga.
Komitmen Keberlanjutan dan Dampak Global
Program Studi Akuntansi UPN "Veteran" Jawa Timur terus berkomitmen untuk menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya berkutat di dalam ruang kuliah, melainkan mampu menelurkan solusi akuntansi yang aplikatif bagi masyarakat luas. Melalui project Akuntansi Bela Negara ini, mahasiswa didorong untuk mengasah kepedulian sosial sekaligus berkontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari lingkup terkecil.
Langkah edukasi ini juga menjadi bukti nyata dukungan universitas terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Nomor 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDGs Nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Guna menjaga keberlanjutan program, seluruh materi edukasi berupa modul digital dan video interaktif tetap disediakan secara online agar dapat diakses oleh para siswa kapan saja dan di mana saja.
Melalui sinergi ini, diharapkan benih literasi keuangan yang telah ditanamkan dapat terus dipraktekkan secara konsisten oleh siswa-siswi SMK PGRI 7 Surabaya. Langkah kecil dari pengelolaan uang saku yang bijak hari ini, adalah investasi besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.(Hara)
Penulis : Tim Pelaksana
Editor. : Hariono.




Posting Komentar