Persiapkan Generasi Emas, Dosen Ilmu Komunikasi UPNVJT Beri Pelatihan Komunikasi Asertif di Masa Orientasi Sekolah SMA
SURABAYA,LINTASDAERAHNEWS.COM - Pembentukan karakter dan kemampuan komunikasi menjadi pondasi penting dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Di era serba digital saat ini, generasi muda dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi secara asertif yakni kemampuan untuk menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan perasaan dengan jujur namun tetap menghargai orang lain.
Komunikasi asertif berperan penting dalam membantu siswa memahami batasan diri, mengelola emosi, serta menjalin hubungan sosial yang sehat baik di lingkungan sekolah maupun di dunia digital. Melalui keterampilan ini, siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, beretika, dan mampu menolak pengaruh negatif tanpa menimbulkan konflik.
Berangkat dari pentingnya membangun kompetensi komunikasi sejak usia sekolah, dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Masa Muda Jangan Salah Jalan: Sayangi Diri, Wujudkan Mimpi!”
Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang diikuti oleh siswa-siswi SMA, dengan tujuan membekali mereka kemampuan komunikasi yang sehat dan beretika sejak dini. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, para dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur mengajak siswa memahami konsep dasar komunikasi asertif bagaimana menyampaikan pendapat dengan sopan, menolak ajakan negatif tanpa rasa takut, serta menghargai perbedaan pendapat antar teman.
Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan dalam SDGs (Sustainable Development Goals) poin ke-4 yakni Education Equality. Pelatihan ini meningkatkan kompetensi non-akademik siswa berupa soft skills komunikasi, kemampuan interpersonal, dan kecerdasan emosional. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada penguatan karakter dan kompetensi sosial siswa. Selain itu kegiatan ini juga mendukung SDG 16 yakni Peace, Justice, and Strong Institutions. Komunikasi asertif membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Remaja yang mampu berkomunikasi secara sehat cenderung lebih mampu menyelesaikan konflik tanpa agresi, sehingga memperkuat budaya sekolah yang damai dan berkeadilan. Di sisi lain juga mendukung SDG 17 yakni Partnerships for the Goals. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah menunjukkan model kemitraan berkelanjutan dalam membangun kualitas pendidikan dan karakter remaja, sesuai spirit SDGs.
Materi pelatihan juga mencakup simulasi dan permainan peran (role play) yang menggambarkan situasi nyata di lingkungan sekolah, seperti menghadapi tekanan teman sebaya (peer pressure), menyelesaikan konflik kecil secara positif, dan mengekspresikan diri dengan percaya diri di depan publik. Dengan metode ini, siswa diharapkan mampu menerapkan komunikasi asertif tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia digital.
Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Dian Hutami Rahmawati, S.Sos., M.Med.Kom., menjelaskan bahwa kemampuan komunikasi asertif merupakan bagian penting dari pembentukan karakter generasi muda.
“Komunikasi asertif membantu siswa mengenal dirinya, menghargai orang lain, dan berani menyuarakan pendapat dengan cara yang santun. Keterampilan ini menjadi bekal penting untuk membentuk generasi emas yang cerdas secara intelektual dan matang secara emosional,” ujar Dian Hutami.
Ia menambahkan bahwa pelatihan ini juga menjadi upaya membangun budaya komunikasi positif di sekolah.
“Kita ingin menanamkan sejak dini bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan, memahami, dan menghormati. Ketika siswa bisa berkomunikasi asertif, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan beretika; karakter yang dibutuhkan untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa mampu menjadi generasi muda yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga bijak dalam berinteraksi dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Penulis :Dian Hutami Rahmawati, S.Sos., M.Med.Kom.
Editor. : Hariono


Posting Komentar